Kamis, 24 Januari 2013

RESET


Ini cuma Tugas Bahasa Indonesia..
dan.. NAN MOLLA~





CTASS!! CTASS!!
Dingin.
Tetesan-tetesan air itu membuatku kembali terjaga dari tidurku. Suara berisik di luar sana juga seolah ikut mendukung agar aku bangun. Ku kerjapkan mataku dan membukanya perlahan. Ku hirup nafasku dalam-dalam. Bau tanah yang lembab dan bau sampah yang menyengat, semua bercampur jadi satu.
Ku longokkan kepalaku di jendela. Sedikit gelap. Hanya terlihat gundukan-gundukan sampah di luar sana kini tengah basah di terpa air hujan yang sedang mengguyur. Lebat. Sangat lebat. Seakan-akan gubuk reyot ini akan hancur di terpanya.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan. Yeni dan Edo. Kedua adikku masih terlelap. Wajah mereka polos, seperti malaikat yang tak mempunyai dosa. Tapi kenapa mereka harus menjalani hidup seberat ini? Ini dosa siapa? Dan kenapa kami harus menanggung semuanya?
Sudah bangun, Nan?” tanya seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong seorang bayi mungil. Wajahnya penuh dengan keriput yang sarat akan kerja keras yang di lakukannya selama ini. Jilbab usang warna hitamnya menjuntai hingga bawah siku.
“hm..” Jawabku sambil beranjak dari kasur lipat yang ku gunakan untuk tidur bersama kedua adikku.
“waktu subuh sudah masuk, Cepat sembahyang menghadap yang kuasa!” kata wanita tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Uma. Ibuku.
buat apa uma? Bahkan tuhan saja tak peduli dengan nasib kita!” jawabku acuh tak acuh, benar-benar tak paham dengan jalan pikiran uma.
“Hush!” potong uma saat aku akan melanjutkan lagi kalimatku. “Istighfar, Nan!! Istighfar!! Bagaimana bisa kamu ngomong kayak gitu? Tuhan itu Peduli! Tuhan nggak pernah tidur! Ia Maha Pengasih, Penyayang, Pemurah, Nan!! Bagaimana bisa kamu ngomong kayak gitu! Tuhan maha tahu!”
“kalau benar tuhan itu maha pemurah, kenapa kita hidup kayak gini uma? Kenapa kita harus hidup susah kayak gini?” tanyaku sebal. Ku hentakkan kakiku dan pergi meninggalkan uma. Aku memutuskan untuk pergi ke luar rumah.
Ati-ati sama omonganmu kinan! Jangan sampai abahmu dengar ini semua!” masih terdengar jelas suara uma yang berada di dalam sana.
Ku tengadahkan tanganku di udara. Basah. Air hujan masih berjatuhan di atasnya. Namun tak lagi deras. Hanya rintik-rintik kecil yang mengguyur.
Aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, entah dimana. Kakiku terus saja melangkah tanpa arah. Pikiranku kosong. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Terlihat gedung-gedung tinggi yang menjalar-jalar mencakari langit menjadi background dari rumah-rumah dari perkampungan kumuh. Pemandangan yang amat-sangat kontras. Sungguh ironis.
Entah, telah berjalan seberapa lama. Yang jelas, ku rasakan kakiku mulai lelah. Matahari pun sudah kembali muncul dengan sinar-sinar merahnya yang menelisip di antara bayangan-bayangan gedung pencakar langit. Menciptakan semburat-semburat merah yang sendu. Orang yang melihat ini pasti akan berkata bahwa ini adalah pemandangan yang indah. Tapi berbeda denganku. Setiap melihat gedung-gedung itu, aku malah merasa marah.
Ku putuskan untuk duduk di sebuah jembatan. Ku sipitkan mataku saat sinar matahari yang menyilaukan itu menerobos masuk melalui retina mataku. Aku duduk termenung di sana. Sekali lagi memandangi gedung-gedung itu.
“apa yang kau lakukan Tuhan? Apakah kau melihat apa yang ku lihat sekarang? Tahukah kau apa yang mereka lakukan di sana? Tidur di kasur empuk dan mahal, atau lagi olahraga dengan alat fitness pribadi mereka?”gumamku. Hatiku semakin bergemuruh, menahan amarah yang rasanya akan segera meledak-ledak. “kenapa mereka bisa seperti itu,tapi aku tidak? kenapa kau begitu tak adil denganku, dengan  uma, abah, dan adik-adikku? kenapa kau biarkan kami bekerja begitu keras tanpa mendapat untung sedangkan manusia-manusia pemalas itu di sana hanya diam saja dan memperoleh banyak keuntungan? KENAPA?”
nggak usah ngomong kalo elo nggak pernah tahu keadaannya!” sahut seseorang. Dari suaranya, sudah bisa di tebak bahwa itu adalah suara seorang laki-laki.
Aku menoleh ke sumber suara. Tampak seorang laki-laki yang sedang bersandar di ujung jembatan yang satunya. Aku menyipitkan mataku. Ia sedang memegang kamera berlensa panjang dan memencet beberapa tombol yang entah apa. Celana pendek dan kaos bermerk membalut tubuhnya. Oh, orang kaya. Ia melepaskan pandangannya dari kamera mahal itu dan beralih menatapku.
“ini tidak ada urusannya dengan anda. Urusi saja urusan anda sendiri. Silahkan pergi!” desisku sinis, namun aku masih berusaha untuk sopan karena aku belum mengenalnya. Tapi, untuk apa orang sepertinya menanggapiku? Aku bahkan tak mengenalnya. “di sini bukan tempatmu.”
“tentu ada urusannya, bocah!” balasnya. Ia menatapku tajam. Dan tentu saja aku tak ingin kalah. Aku membalasnya dengan tatapanku yang tak kalah tajam.
“Bocah? Anda memanggil bocah?!” tanyaku tak mengerti. Bagaimana bisa ia memanggiku bocah? Aku sudah lulus SMA dengan nilai terbaik!
“ya. Bocah. Cara berpikirmu tak lebih pintar dari bocah-bocah asongan yang mengemis-ngemis akan kekayaan.” Desisnya singkat. Namun masih cukup untuk ku dengar. Ia ikut bersandar di ujung jembatan. Melipat tangannya di depan dada untuk memperlihatkan keangkuhannya.
“Apa maksud anda? Saya udah lulus SMA!?” tanyaku sangsi.
“lulus SMA? Lo yakin lo udah lulus SMA? Kalo gue sih yakin kalo buat lulus SD aja lo nyogok.” Desisnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman sinis yang membuatku jengkel. “lo tuh terlalu egois buat jadi anak SMA. Cara berpikir lo masih kaya anak kecil! Seharusnya kalo lo emang bener udah LULUS SMA, lo seharusnya bisa mikir panjang. Perluas wawasan lo. Gue pikir di usia lo yang segini, lo udah bisa baca buku atau liat acara TV yang bisa ngebuka wawasan lo.”
Aku terdiam, berusaha menyerap apa yang di katakannya. Rasa amarah semakin membuncah di dadaku. Memenuhi rongga-rongga bahkan nafasku. Rahangku menegang. Ku cengkeram kaos usangku erat-erat. “lo nggak pernah tahu hidup gue kaya gimana!”
so, kenapa lo nggak ngasih tahu gue gimana hidup lo?” pancingnya.
“gue tau lo orang kaya, tapi lo nggak pantes ngomong gitu ke gue karena lo nggak pernah tahu hidup gue.” Potongku. Amarah dalam hatiku semakin meledak-ledak. Aku tak terima dengan pernyataannya yang ku rasa sembarangan.
“Dari kecil, gue udah hidup susah sama orang tua gue. Di tambah lagi 3 adik gue yang masih kecil. Mau beli kebutuhan hidup aja susah, apa lagi buat sekolah. Masa depan adik-adik gue masih panjang! Tapi walaupun uma sama abah gue kerja sampe jungkir balik masih tetep aja kurang.” ku rasakan mataku memanas. Bulir-bulir air mulai berjatuhan, mengalir di atas pipiku. Bibirku bergetar. Megitu juga tanganku. Perlahan, aku mulai terisak. “lo nggak pantes ngomong gitu ke gue. Lo nggak pernah ngrasain gimana hidup gue!”
“Trus apa lo pernah mikir gimana rasanya hidup jadi orang lain?” balasnya. ia berjalan ke arahku kemudian menodorkan kameranya kepadaku. Di perlihatkannya beberapa gambar dalam kemera itu melalui screen yang ada dalam kameranya.  “lihat!”
Gambar seorang bapak-bapak tua yang tergeletak di sebuah gang sempit. Hanya kulitnya yang hitam dan keriput membalut tulangnya. Ia hanya tertidur beralaskan sebuah kardus usang yang sudah tipis. Bajunya berwarna hitam sudah sobek-sobek di sana-sini.
“orang ini punya penyakit jantung. Tapi sampai mati dia nggak bernah bisa bergi berobat. apa lo pernah mikir gimana rasanya hidup kaya bapak ini?” tanyanya. Namun aku tak membalas pertanyaannya sedikitpun. “atau bayangin ni orang jadi bapak lo?”
Kemudian, gambar itu berganti. Ada seorang gadis kecil mendekam di depan sebuah emperan toko yang sedang tutup. Ia berteduh dari hujan, mendekap kedua adiknya yang masih kecil. Berusaha menetraliris rasa dingin yang menusuk-nusuk mereka.
“mereka yatim piatu. Orang tua mereka di bunuh oleh kawanan pemabuk saat pulang bekerja. Atau lo pernah mikir jadi mereka? lo pernah ngelindungi adik lo? mempertaruhkan nyawa lo demi adik lo?” tanyanya lagi. “mereka hampir mati kedinginan waktu gue temuin. Mereka sekarang tinggal sama gue.”
Ia kemudian memencet beberapa tombol lagi di kameranya. Kini terlihat seorang ibu-ibu yang tampak sebaya dengan uma sedang tergeletak tak berdaya di atas ranjang reyot dan kotor. Wajahnya pucat. Bibirnya membiru. Matanya terpejam. Guratan-guratan keriput nampak jelas di wajah kurusnya. Namun, entah kenapa wajahnya terlihat damai.
“ini ibu gue.” Sahutnya. Refleks, aku memandangnya tak percaya. “gue ngambil foto ini waktu ibu gue ninggalin gue untuk selamanya.”
Aku terdiam. Enah kenapa, semua ini membuat bibirku seolah terkunci rapat.
“ibu gue sakit. Dan bodohnya, waktu gue punya banyak duit, gue nggak nganter ibu gue berobat, tapi malah beli kamera ini. Waktu gue pulang bawa kamera ini, ibu gue udah sakaratul maut.” Ia terus berbicara sambil menerawang ke langit yang mulai cerah.
“dan, orang yang ada di depan lo ini seorang yatim piatu. Dan gue nggak pernah masuk bangku sekolah sehari pun. Mau dari lahir sampe jadi segede ini, gue nggak pernah tahu gimana tuh yang namanya belajar di sekolah. Lo tuh seharusnya sadar, lo tuh jau lebih beruntung dari pada orang-orang tadi. Daripada gue. Dan yang harus di salahin itu bukan Tuhan tapi ELO!!” katanya sambil menunjukku. “lo tuh seharusnya bukan ngeliat apa yang ada di atas lo, lihat yang ada di bawah! Bersyukur sama Tuhan!”
Tanpa sadar, air mata yang tadinya berhenti, kini menetes kembali. Kalut. Aku menatap mata pria itu. Ia menatapku.
Entah ada dorongan apa, aku pergi meninggalkannya. Berlari sekuat tenaga. Aku berharap untuk bisa lebih cepat sampai di rumah. Aku ingin melihat wajah uma, abah dan adik-adikku. Sungguh, Tuhan. Apa yang ku pikirkan selama ini? Dunia bener-benar membuat diriku ini buta akan semuanya.
Berapa banyak kesalahan yang telah ku perbuat Ya Tuhan? Kenapa baru sekarang hamba tersadar? Hamba menyesal. Benar-benar menyesal.
Tiba-tiba langkahku terhenti. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Basah. Bukan hanya karena hujan, tapi ini bencana. Beberapa orang menangis meraung-raung. Meratapi rumah mereka yang hancur atau keluarga mereka yang meninggal. Ya, hancur, menyatu dengan sampah dan tanah. Beberapa di antaranya berusaha menarik orang-orang yang terjepit di bawah puing-puing bangunan. Beberapa lainnya mengais-ngais sisa rumah mereka untuk mencari sisa harta mereka.
Aku menatap pemandangan di depanku ini tak percaya. Seolah ini hanya mimpi.
Beberapa kali aku mendengar beberapa orang mengatakan tsunami. Tapi kurasa itu tidak mungkin karena daerah kami bukan daerah pantai.
Lalu? Rumahku?
Dengan membabi buta aku berlari, tanpa peduli apa yang ku pijak. Aku hanya ingin melihat rumahku. Meluhat uma dan abah, juga adik-adikku.
Kini aku berdiri. Kakiku yang tiba-tiba terasa lemas membuatku merosot jatuh ke tanah becek yang ku pijak. Rumah ku hancur. Tentu saja. Rumah penuh kenangan sejak aku kecil itu memang sudah reyot.
Tapi mengapa tidak ada ornag di sini? Kenapa tak ada yang tersiasa? Lalu di mana uma? Di mana abah? Apa mereka sudah...
“KINAN!!!” sebuah suara berat memanggilku dari jauh. Suara berat yang amat sangat ku rindukan. Entah kenapa aku baru sadar kalau aku jarang sekali mendengar suara ini. Secercah harapan muncul di benakku.
Aku menoleh. Abah berdiri menggendong edo. Di sampingnya uma berdiri menggendong si kecil dengan tangan yeni yang berada di genggaman tangannya. Mereka tersenyum lebar menatapku dan tergopoh-gopoh berlari ke arahku.
Seolah sebuah batu besar yang menyumbat setiap nafasku terangkat dari dalam dadaku. Aku merasa lega. Benar benar lega.
Abah merengkuhku ke dalam pelukannya. Juga uma. Ia menangis tersedu-sedu, membuat tangisku semakin menjadi.
“Untunglah kamu selamat kinan! Alhamdulillah ya Rabbi! Terima kasih kau telah menyelamatkan kami semua!” bisik abah. Tapi aku mendengarnya dengan jelas.
“maafin kinan uma, abah!” kataku. Suaraku bergetar. Abah semakin erat memelukku dan mencium keningku.
Entah berapa lama, kami bersimpuh, berpelukan di depan rumah kami yang hancur karena terpaan air Situ Gintung yang menerjang karena jebolnya tanggul. Berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan karena masih di beri kesempatan untuk bertemu kembali, juga kesempatan untuk merubah hidupku.



*iyuhhh~*

0 komentar:

Posting Komentar

RCL-juseyo~ :D