Ini cuma Tugas Bahasa Indonesia..
dan.. NAN MOLLA~
CTASS!! CTASS!!
Dingin.
Tetesan-tetesan air itu membuatku kembali terjaga
dari tidurku. Suara berisik di luar sana juga seolah ikut mendukung agar aku
bangun. Ku kerjapkan mataku dan membukanya perlahan. Ku hirup nafasku
dalam-dalam. Bau tanah yang lembab dan bau sampah yang menyengat, semua
bercampur jadi satu.
Ku longokkan kepalaku di
jendela.
Sedikit gelap. Hanya terlihat gundukan-gundukan sampah di luar sana kini tengah
basah di terpa air hujan yang sedang mengguyur. Lebat. Sangat lebat. Seakan-akan
gubuk reyot ini akan hancur di terpanya.
Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan.
Yeni dan Edo. Kedua adikku masih terlelap. Wajah mereka polos, seperti malaikat
yang tak mempunyai dosa. Tapi kenapa mereka harus menjalani hidup seberat ini?
Ini dosa siapa? Dan kenapa kami harus menanggung semuanya?
“Sudah
bangun, Nan?”
tanya seorang wanita paruh baya yang tengah menggendong seorang bayi mungil. Wajahnya
penuh dengan keriput yang sarat akan kerja keras yang di lakukannya selama ini. Jilbab usang warna
hitamnya menjuntai hingga bawah siku.
“hm..” Jawabku sambil beranjak dari kasur lipat yang
ku gunakan untuk tidur bersama kedua adikku.
“waktu subuh sudah masuk, Cepat
sembahyang menghadap yang kuasa!” kata wanita tadi yang tak lain dan tak bukan
adalah Uma. Ibuku.
“buat apa uma?
Bahkan tuhan
saja tak peduli dengan nasib kita!” jawabku acuh tak acuh,
benar-benar tak paham dengan jalan pikiran uma.
“Hush!” potong uma saat aku
akan melanjutkan lagi kalimatku. “Istighfar, Nan!! Istighfar!! Bagaimana bisa
kamu ngomong kayak gitu? Tuhan itu Peduli! Tuhan nggak pernah tidur! Ia Maha
Pengasih, Penyayang, Pemurah, Nan!! Bagaimana bisa kamu ngomong kayak gitu!
Tuhan maha tahu!”
“kalau benar tuhan itu
maha pemurah, kenapa kita hidup kayak
gini uma? Kenapa kita harus hidup susah kayak gini?”
tanyaku sebal. Ku hentakkan kakiku dan pergi meninggalkan uma. Aku memutuskan
untuk pergi ke luar rumah.
“Ati-ati sama omonganmu
kinan! Jangan sampai abahmu
dengar ini semua!” masih terdengar jelas suara uma yang berada di dalam
sana.
Ku tengadahkan tanganku di
udara. Basah. Air hujan masih berjatuhan di atasnya. Namun tak lagi deras.
Hanya rintik-rintik
kecil yang mengguyur.
Aku memutuskan untuk pergi ke suatu tempat, entah
dimana. Kakiku terus saja melangkah tanpa arah. Pikiranku
kosong. Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru. Terlihat gedung-gedung
tinggi yang menjalar-jalar
mencakari langit menjadi background dari rumah-rumah dari perkampungan
kumuh. Pemandangan yang amat-sangat kontras. Sungguh ironis.
Entah, telah berjalan
seberapa lama. Yang jelas, ku rasakan kakiku mulai lelah. Matahari pun sudah
kembali muncul dengan sinar-sinar merahnya yang menelisip di antara
bayangan-bayangan gedung pencakar langit. Menciptakan semburat-semburat merah
yang sendu. Orang yang melihat ini pasti akan berkata bahwa ini adalah
pemandangan yang indah. Tapi berbeda denganku. Setiap melihat gedung-gedung
itu, aku malah merasa marah.
Ku putuskan untuk duduk di
sebuah jembatan. Ku sipitkan mataku saat sinar matahari yang menyilaukan itu menerobos masuk
melalui retina mataku. Aku duduk termenung di sana. Sekali lagi memandangi
gedung-gedung itu.
“apa yang kau lakukan Tuhan?
Apakah kau melihat
apa yang ku lihat sekarang? Tahukah kau apa yang mereka lakukan di sana? Tidur
di kasur empuk dan mahal, atau lagi
olahraga dengan alat fitness pribadi mereka?”gumamku. Hatiku semakin
bergemuruh, menahan amarah yang rasanya akan segera meledak-ledak. “kenapa
mereka bisa seperti itu,tapi
aku tidak? kenapa
kau begitu tak adil denganku,
dengan uma, abah, dan adik-adikku? kenapa
kau biarkan kami bekerja begitu keras tanpa
mendapat untung sedangkan manusia-manusia pemalas itu di sana
hanya diam saja dan memperoleh banyak keuntungan? KENAPA?”
“nggak usah ngomong kalo elo nggak
pernah tahu keadaannya!” sahut seseorang. Dari suaranya, sudah bisa di tebak
bahwa itu adalah suara seorang laki-laki.
Aku menoleh ke sumber suara.
Tampak seorang laki-laki yang
sedang bersandar di ujung jembatan yang satunya. Aku menyipitkan
mataku. Ia
sedang memegang kamera berlensa panjang dan memencet beberapa tombol yang entah
apa. Celana pendek dan kaos bermerk membalut tubuhnya. Oh, orang kaya. Ia melepaskan pandangannya dari
kamera mahal itu dan beralih menatapku.
“ini tidak ada urusannya dengan anda.
Urusi saja urusan anda sendiri. Silahkan pergi!” desisku sinis, namun aku masih
berusaha untuk sopan karena aku belum mengenalnya. Tapi, untuk apa orang
sepertinya menanggapiku? Aku bahkan tak mengenalnya. “di sini bukan tempatmu.”
“tentu ada urusannya, bocah!” balasnya. Ia menatapku
tajam. Dan tentu saja aku tak ingin kalah. Aku membalasnya dengan
tatapanku yang tak kalah tajam.
“Bocah? Anda
memanggil bocah?!” tanyaku tak mengerti. Bagaimana bisa ia memanggiku bocah? Aku sudah lulus SMA
dengan nilai terbaik!
“ya. Bocah. Cara berpikirmu tak lebih pintar dari
bocah-bocah asongan yang mengemis-ngemis akan kekayaan.” Desisnya singkat.
Namun masih cukup untuk ku dengar. Ia ikut bersandar di ujung jembatan. Melipat
tangannya di depan dada untuk memperlihatkan keangkuhannya.
“Apa maksud anda? Saya udah lulus SMA!?” tanyaku
sangsi.
“lulus SMA? Lo yakin lo udah lulus SMA? Kalo gue sih
yakin kalo buat lulus SD aja lo nyogok.” Desisnya. Sudut bibirnya tertarik ke
atas, membentuk sebuah senyuman sinis yang membuatku jengkel. “lo tuh terlalu
egois buat jadi anak SMA. Cara berpikir lo masih kaya anak kecil! Seharusnya
kalo lo emang bener udah LULUS SMA, lo seharusnya bisa mikir panjang. Perluas
wawasan lo. Gue pikir di usia lo yang segini, lo udah bisa baca buku atau liat
acara TV yang bisa ngebuka wawasan lo.”
Aku terdiam, berusaha menyerap apa yang di
katakannya. Rasa amarah semakin membuncah di dadaku. Memenuhi rongga-rongga
bahkan nafasku. Rahangku menegang. Ku cengkeram kaos usangku erat-erat. “lo
nggak pernah tahu hidup gue kaya gimana!”
“so, kenapa lo nggak ngasih tahu gue gimana
hidup lo?” pancingnya.
“gue tau lo orang kaya, tapi lo nggak pantes ngomong
gitu ke gue karena lo nggak pernah tahu hidup gue.” Potongku. Amarah dalam
hatiku semakin meledak-ledak. Aku tak terima dengan pernyataannya yang ku rasa
sembarangan.
“Dari kecil, gue udah hidup susah sama orang tua
gue. Di tambah lagi 3 adik gue yang masih kecil. Mau beli kebutuhan hidup aja
susah, apa lagi buat sekolah. Masa depan adik-adik gue masih panjang! Tapi
walaupun uma sama abah gue kerja sampe jungkir balik masih tetep aja kurang.”
ku rasakan mataku memanas. Bulir-bulir air mulai berjatuhan, mengalir di atas
pipiku. Bibirku bergetar. Megitu juga tanganku. Perlahan, aku mulai terisak.
“lo nggak pantes ngomong gitu ke gue. Lo nggak pernah ngrasain gimana hidup
gue!”
“Trus apa lo pernah mikir gimana rasanya hidup jadi
orang lain?” balasnya. ia berjalan ke arahku kemudian menodorkan kameranya
kepadaku. Di perlihatkannya beberapa gambar dalam kemera itu melalui screen yang
ada dalam kameranya. “lihat!”
Gambar seorang bapak-bapak tua yang tergeletak di
sebuah gang sempit. Hanya kulitnya yang hitam dan keriput membalut tulangnya.
Ia hanya tertidur beralaskan sebuah kardus usang yang sudah tipis. Bajunya
berwarna hitam sudah sobek-sobek di sana-sini.
“orang ini punya penyakit jantung. Tapi sampai mati
dia nggak bernah bisa bergi berobat. apa lo pernah mikir gimana rasanya hidup
kaya bapak ini?” tanyanya. Namun aku tak membalas pertanyaannya sedikitpun.
“atau bayangin ni orang jadi bapak lo?”
Kemudian, gambar itu berganti. Ada seorang gadis
kecil mendekam di depan sebuah emperan toko yang sedang tutup. Ia berteduh dari
hujan, mendekap kedua adiknya yang masih kecil. Berusaha menetraliris rasa
dingin yang menusuk-nusuk mereka.
“mereka yatim piatu. Orang tua mereka di bunuh oleh
kawanan pemabuk saat pulang bekerja. Atau lo pernah mikir jadi mereka? lo
pernah ngelindungi adik lo? mempertaruhkan nyawa lo demi adik lo?” tanyanya
lagi. “mereka hampir mati kedinginan waktu gue temuin. Mereka sekarang tinggal
sama gue.”
Ia kemudian memencet beberapa tombol lagi di
kameranya. Kini terlihat seorang ibu-ibu yang tampak sebaya dengan uma sedang
tergeletak tak berdaya di atas ranjang reyot dan kotor. Wajahnya pucat.
Bibirnya membiru. Matanya terpejam. Guratan-guratan keriput nampak jelas di
wajah kurusnya. Namun, entah kenapa wajahnya terlihat damai.
“ini ibu gue.” Sahutnya. Refleks, aku memandangnya
tak percaya. “gue ngambil foto ini waktu ibu gue ninggalin gue untuk
selamanya.”
Aku terdiam. Enah kenapa, semua ini membuat bibirku
seolah terkunci rapat.
“ibu gue sakit. Dan bodohnya, waktu gue punya banyak
duit, gue nggak nganter ibu gue berobat, tapi malah beli kamera ini. Waktu gue
pulang bawa kamera ini, ibu gue udah sakaratul maut.” Ia terus berbicara sambil
menerawang ke langit yang mulai cerah.
“dan, orang yang ada di depan lo ini seorang yatim
piatu. Dan gue nggak pernah masuk bangku sekolah sehari pun. Mau dari lahir
sampe jadi segede ini, gue nggak pernah tahu gimana tuh yang namanya belajar di
sekolah. Lo tuh seharusnya sadar, lo tuh jau lebih beruntung dari pada
orang-orang tadi. Daripada gue. Dan yang harus di salahin itu bukan Tuhan tapi
ELO!!” katanya sambil menunjukku. “lo tuh seharusnya bukan ngeliat apa yang ada
di atas lo, lihat yang ada di bawah! Bersyukur sama Tuhan!”
Tanpa sadar, air mata yang tadinya berhenti, kini
menetes kembali. Kalut. Aku menatap mata pria itu. Ia menatapku.
Entah ada dorongan apa, aku pergi meninggalkannya.
Berlari sekuat tenaga. Aku berharap untuk bisa lebih cepat sampai di rumah. Aku
ingin melihat wajah uma, abah dan adik-adikku. Sungguh, Tuhan. Apa yang ku
pikirkan selama ini? Dunia bener-benar membuat diriku ini buta akan semuanya.
Berapa banyak kesalahan yang telah ku perbuat Ya
Tuhan? Kenapa baru sekarang hamba tersadar? Hamba menyesal. Benar-benar
menyesal.
Tiba-tiba langkahku terhenti. Ku edarkan pandanganku
ke seluruh penjuru. Basah. Bukan hanya karena hujan, tapi ini bencana. Beberapa
orang menangis meraung-raung. Meratapi rumah mereka yang hancur atau keluarga
mereka yang meninggal. Ya, hancur, menyatu dengan sampah dan tanah. Beberapa di
antaranya berusaha menarik orang-orang yang terjepit di bawah puing-puing
bangunan. Beberapa lainnya mengais-ngais sisa rumah mereka untuk mencari sisa
harta mereka.
Aku menatap pemandangan di depanku ini tak percaya.
Seolah ini hanya mimpi.
Beberapa kali aku mendengar beberapa orang
mengatakan tsunami. Tapi kurasa itu tidak mungkin karena daerah kami bukan
daerah pantai.
Lalu? Rumahku?
Dengan membabi buta aku berlari, tanpa peduli apa
yang ku pijak. Aku hanya ingin melihat rumahku. Meluhat uma dan abah, juga
adik-adikku.
Kini aku berdiri. Kakiku yang tiba-tiba terasa lemas
membuatku merosot jatuh ke tanah becek yang ku pijak. Rumah ku hancur. Tentu
saja. Rumah penuh kenangan sejak aku kecil itu memang sudah reyot.
Tapi mengapa tidak ada ornag di sini? Kenapa tak ada
yang tersiasa? Lalu di mana uma? Di mana abah? Apa mereka sudah...
“KINAN!!!” sebuah suara berat memanggilku dari jauh.
Suara berat yang amat sangat ku rindukan. Entah kenapa aku baru sadar kalau aku
jarang sekali mendengar suara ini. Secercah harapan muncul di benakku.
Aku menoleh. Abah berdiri menggendong edo. Di
sampingnya uma berdiri menggendong si kecil dengan tangan yeni yang berada di
genggaman tangannya. Mereka tersenyum lebar menatapku dan tergopoh-gopoh
berlari ke arahku.
Seolah sebuah batu besar yang menyumbat setiap
nafasku terangkat dari dalam dadaku. Aku merasa lega. Benar benar lega.
Abah merengkuhku ke dalam pelukannya. Juga uma. Ia
menangis tersedu-sedu, membuat tangisku semakin menjadi.
“Untunglah kamu selamat kinan! Alhamdulillah ya
Rabbi! Terima kasih kau telah menyelamatkan kami semua!” bisik abah. Tapi aku
mendengarnya dengan jelas.
“maafin kinan uma, abah!” kataku. Suaraku bergetar.
Abah semakin erat memelukku dan mencium keningku.
Entah berapa lama, kami bersimpuh, berpelukan di
depan rumah kami yang hancur karena terpaan air Situ Gintung yang menerjang
karena jebolnya tanggul. Berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan karena masih
di beri kesempatan untuk bertemu kembali, juga kesempatan untuk merubah
hidupku.
*iyuhhh~*
0 komentar:
Posting Komentar
RCL-juseyo~ :D