Jumat, 26 Desember 2014

Destiny

Well, hello hellooo~
Pagi yang berkabut di tengah sawaaahh, aku lagi di kereta menuju kediri tercintaaah.
Yes, 25 desember ada libur sebelum nantinya PKL di rumah sakit, Kesempatan lah yaw buat pulang ke kampung.
Tanggal 5 januari nanti aku bakal ada PKL. Wait, bukan pedagang kaki lima ya? Praktek kuliah lapangan.
Aku kebagian tempat di RSUD Wirosaban jogja. Nggak kebayang sekarang kerjaanku kayak gini. Bener-bener nasib orang nggak ada yang tahu deh.
Daaaan, denger dari orangnya langsung niih, kalo lolos SAT, adi bakal kuliah di luar negeri. Sial, envy berat dah!  Hiks. Seandainya berduit, kemaren kemaren berangkat lah aku ke luar negeri. *Huss! Ngga boleh gitu il..
Kok sedih ya tapi kalo dia jadi berangkaat? Rasanya dia nggak terjangkau, hoho, lebay banget aku nih.
Well, gimana pun jadinya, you're still ma bestfriend ever lah, although you never think that way. Semoga kamu nggak lupa aku ya? Kirimin oleh oleh jugaa T.T
Sial, aku terharu (?)

GOOD LUCK, buat aku, kamu dan sahabat sahabat semuanyah~

Oh iya, mumpung inget, aku lagi nonton Misaeng nih. Di situ ada kalimat yang aku suka, pas adegan Oh Sangshik sama Jang Geurae di balkon kantor.
"Do you know what is life? Hidup adalah rangkaian pilihan yang kamu pilih."

Sabtu, 20 Desember 2014

New Chapter on Ma Life

Sore yang mendung. Jogja habis di guyur hujan deres banget.

Udah berapa bulan blog ini terabaikan? Hoho, udah terlalu lama sampe si kunyuk satu itu ngingetin aku lagi tentang blog ini.

I just re-read my post, and oh mai gat, soooooo alay, sealay inboxers, dahsyater, segala lalala yeyeye di seluruh indonesia #apasih.

Dan, yah, taraaa.. posisi udah di jogja kali ini. Udah jadi bagian dari mahasiswi vokasi UGM. Gilak, ngga nyangka gw udah sebegini tua. Dan fase terberat dalam hidup itu udah terlewati, walaupun belum semua. Sigh~ jadi keinget. Malu, takut, gengsi, sedih. Campur aduk.

Lulus madrasah dengan nilai pas-pasan, harus ikut banyak kali tes ujian masuk universitas, jadi bahan omongan di keluarga. Semua itu bikin aku nyadar kalo aku bukan apa-apa, nyadar kalo life is really hard, nyadar kalo aku butuh sesuatu untuk bersandar, dan ketika sudah tak ada orang lagi, masih ada Tuhan.

Aku inget persis, gimana aku ngemis-ngemis, mohon ke Gusti Allah biar aku bisa sekolah lagi. Mohon-mohon, to let me take a breath again. I can't breath for a long time. Thinking negatively, that my life is done. It's reach my limit. Cuma bisa pasrah, ya iya lah, emang mau ngapain lagi?
Mungkin, backthen, aku terlalu sombong, terlalu naif jadi orang, never work hard. I remember, I never really work hard. Peringkat satu dari kelas 1 sd, its just come. I just dont know anything, I just a child that dont know anything. Semua itu mungkin udah ngerubah aku jadi orang sombong yang like a shit. And now, I feel that i'm nothing.
Yah, aku nyasar di prodi Rekam Medis. I really dont know what is this. Bu nur bilang, kami, orang orang yang kesasar, nyasar di tempat yang benar. But I still don't get it. Aku masih nggak ngerti aku mau jadi apa kalo aku udah dapet gelar dari sana. Aku nggak bisa ngebayangin gimana plan buat masa depan aku di jalur ini. Aku pengen ikut arus yang ada sampe aku menemukan sosok 'aku' lagi yang ada di bidang ini. Tapi kok ya nilaiku nggak bagus-bagus. Kadang aku jadi mikir,

Aku sebodoh itu kah?
Am I a dumbass?

Astaghfirullah..

Sabtu, 14 Juni 2014

Let It Go

Sore itu, jujur tak ada firasat apapun.
tak merasa ada tanda-tanda apapun.
HP juga tak sering berdering. biasa saja, semua terjadi biasa saja.

berkumandanglah adzan isya'. saat itu aku sedang duduk di dekat pos satpam. memandangi bulan yang hampir 1 lingkaran penuh. bersinar-sinar menerangi langit yang terlihat sedikit kelam. menunggu rosta kembali.

sebuah angkot 'AL' berhenti tepat di depan gerbang. seiring dengan itu rosta turun dan aku berdiri menghampiri. lalu kembali ke kamar setelah sebelumnya memberikan rok yang ia minta.

"ada telepon berkali-kali il, dari bu isti."
suara itulah yang menyambutku ketika masuk ke dalam kamar. perasaan ku mulai berbeda. aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. terlebih dengan adanya sms dari tedy berisi 1 nama, membuatku berpikir yang tidak-tidak.

bu isti sudah tak bisa lagi di telepon. jaringan sibuk, tanda bahwa ia sedang terhubung dengan orang lain. tedy lah yang menjadi pilihan kedua.

tersambunglah dengannya. terdengar suara seraknya di telepon. menggumamkan kabar yang menurutku sangat tak pantas untuk di buat bercanda. tak percaya. aku benar-benar tak percaya.

"Bu Asri sudah ndak ada"

air mata sudah tak bisa lagi di bendung. membuat basa pipi dan wajahku. masih tidak terima aku dengan kabar itu. berteriak di telepon hingga suaraku tenggelam karena tangis hingga memutuskan untuk menerimanya.

aku berusaha menelepon bu isti kembali, tapi masih saja tak bisa tersambung. hesti juga tak bisa ku hubungi. akhirnya uma pun menjadi pilihan. suaranya terdengar di seberang.

"Bu Asri udah ndak ada, um." kataku dengan suara serak karena tangis. uma tak merespon. hanya 'hah?' dan 'loh?', memastikan kembali apa yang telah di dengarnya. aku meyakinkannya kembali, sama seperti yang tedy katakan tadi.

telepon uma terputus. bu isti tetap tak bisa di telepon. aku memutuskan menelepon yodith, dengan respon yang kurang lebih sama. hesti tetap tak bisa di hubungi. dila tak bisa di hubungi, dinda juga sama. dan akhirnya nama bu isti kembali muncul di telepon. bu isti menelepon.

"iya il, bener. Bu Asri sudah ndak ada. sekarang sedang di ruang jenazah saiful anwar. nanti jam 9 akan diberangkatkan ke surabaya. ke sana o kalau bisa. tadi setelah dapat kabar, bu isti langsung telepon kamu tapi ndak di angkat."

begitulah bu isti bilang. beberapa sms masuk ke hp ku, kurang lebih sama. menanyakan berita tentang bu asri dan posisiku berada di mana.
aku memutuskan untuk menelepon luluk. dia yang paling parah. dia sama sekali belum bertemu dengan bu Asri semenjak pergi ke gontor dan setelah kembali ke rumah. sekalipun belum bertemu. ia bahkan sampai memberikan barang yang ia pegang kepada ibuknya, menangis dan memutuskan teleponku begitu saja.

aku harus ke rumah sakit sekarang juga, begitu pikirku. motor. hanya itu aksesnya.

aku mengirimkan pesan pada lutfi, tapi tak kunjung mendapatkan balasan. teman-teman sekamar menawariku untuk meminjam motor milik mas-mas, membantuku meminjamnya dan mengantarku ke rumah sakit karena kondisi yang tidak memungkinkan.

kunci motor mas Adi sudah di tangan Alya, ia mengantarku ke rumah sakit. saking gupuh dan bingungnya, kami sama-sama tak membawa apapun, hanya membawa ponsel, tanpa uang sepeserpun.
sampailah kami ke depan IGD. motor sudah terparkir apik. dan kami masuk ke rumah sakit.

"maaf mbak, ruang jenazah ada di belakang, harus naik motor." begitulah kata petugas resepsionis.

otomatis kami harus mengeluarkan uang untuk bisa mengeluarkan motor dari tempat parkir.
lutfi membalas pesanku. dan akhirnya aku memintanya untuk meminjamkan uangnya kepadaku agar bisa membayar tagihan parkir.
aku dan alya menunggunya di depan IGD. sedikit lama hingga akhirnya lutfi datang dengan beat putihnya. dan bodohnya, ia memberi alya uang 50ribuan. YANG BENAR SAJA!!! 50ribu untuk parkir?????
aku berjongkok di trotoar. kakiku rasanya lemas.
dan lutfi pun pergi.
aku dan alya pergi ke tempat parkir untuk mengambil motor lagi hingga akhirnya sampai di bagian forensik RS. Saiful anwar.

sepi. hanya ada segelintir orang. aku tidak melihat ada keluarga bu asri atau siapapun yang ku kenal. ragu-ragu, aku akhirnya menelepon Bu isti kembali. Bu Isti memberiku nomor telepon pak Fakhur, suami bu asri.

aku menelepon pak Fatkhur. suara di seberang sangat bising. ada suara 'ctak.. ctak..' yang tidah berhenti. dan samar-samar aku mendengar suara lain. suara dengungan ambulans.

"ini siapa?" tanya pak Fatkhur di tengah bising.
"ilafi pak. ini ilafi, muridnya bu asri. bu asri di ruang mana?"
"Ilafi.. Ilafii.. " panggilnya lemah. "Bu asri sudah ndak ada nak, Bu asri sudah meninggal."

kalimat itu yang membuatku langsung terdiam. saat itu semua baru terasa nyata. rasanya seperti bangun dari mimpi. semua ini nyata.
kakiku bergetar, terduduk di bagian forensik.
terlambat sudah. terlambat.

Bu Asri, ila sudah janji jenguk bu Asri pas kemo ke-3.
tapi ila terlambat bu. ila ndak tahu kalau bu asri masuk rumah sakit lebih awal.
seandainya ila tahu, ila mungkin bakal langsung jenguk bu asri.
maafin ila bu, pas kemo ke-2 ndak bisa jenguk bu asri.
suporter ila, orang yang selalu kasih ila semangat, orang yang selalu percaya kalo ila bisa, orang yang nggak pernah ngremehin ila, tempat curhat ila, orang yang sayang sama ila.
Ya Allah, balaslah kebaikan hatinya.
terimalah amal ibadahnya.
ampunilah segala dosanya.
Ya Allah, mohon sampaikan, aku mencintainya, aku merindukannya.
sampaikan segala rindu dan maafku padanya. sampaikan terimakasihku padanya.

Selamat Jalan Ibukku tercinta, bundaku tersayang, bunda ARCHIPELAGO, aku mencintaimu.

Jumat, 23 Mei 2014

pasca pengumuman

alooohaaa~
how's life?
me?
not really good actually, but who's care?

too tired to be here.
balik ke malang? not now deh. aku belum siap menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
jadi critanya, sekarang aku lagi bersembunyi dari kenyataan. bersembunyi dari orang orang yang selalu bertanya 'Danemmu piro?'. aku capek jawabnya. karena jawabannya tak patut untuk di umbar-umbar. ciyusly!
awalnya aku positive thinking, berapapun hasilnya itu tetep hasil dari keringat, usaha, dan rasa sakit yang udah kuderita selama 2 tahun belakangan. tapi tetep aja, lingkungan tak mendukung untuk ber-positive thingking-ria.
aku kecewa, sedih, malu, campur-campur. aku bilang aku capek di rendahin orang, tapi aku sendiri malah berbuat sesuatu yang membuat orang ngrendahin aku. gimana aku bisa maju?
pengen jadi yang lebih-lebih, pengen balas dendam ke orang orang itu. pengen nunjukin kalau aku bisa lebih dari yang mereka bayangkan!
tapi kok aku sulit di ajak maju?
heh? gimana caranya ngajak tubuh sendiri untuk berbuat sesuatu yang lebih?

helooo~
ini aku masih glundang-glundung di atas kasur!

AKU INGIN BERUBAAAAHHH!!!
AKU INGIN KEMAMPUANKU KEMBALIIIII!!!

selama sekolah di MAN 3, rasanya taringku kayak hilang, tumpul. cara berpikir dalam pemecahan masalah yang dulu di sd-smp tajam (menurutku loh yaa?? gak  maksud apa apa kok~) kayak hilang tak berebekas. tiap ngadepin soal, krik banget. cuma lihat doang, nggak bisa ngerjain.

kemana perginya aku yang dulu??
aku kangen gila!! aku butuh, aku mau aku yang lamaaaaa~

Sabtu, 17 Mei 2014

BREAK!



Masih.
Masih kurasakan kaki dan tanganku bergetar hebat. Detak jantung juga berpacu dengan lautan emosi yang mulai berombak karena angin dan palung-palung yang mulai bergerak. Menghasilkan riak-riak kecil yang dapat membakar seluruh padang savana.
Aku berlari. Tak bisa lagi menengok ke belakang. Apa dayanya ketika bara yang telah padam, dipanaskan oleh terik matahari yang menyinari tak ada henti. Merah menyala, dengan sedikit minyak, maka jadilah kobaran api.
Tak ada pilihan. Tak bisa pergi dan tak bisa bertahan. Tapi apabila bertahan, sakit hatilah yang terpendam, membuat keruh mata air, mengotori seluruh sungai. Tak bisa. Itu lebih menyakitkan. Pergi pun akhirnya kembali menjadi pilihan.
Ya, aku pergi lagi untuk yang kesekian kali. Menghindari rasa sakit yang terus mengejar di belakang, tak sanggup merasakan walau akhirnya akan terasa juga.
Ku pikir aku sudah berhasil. Ku pikir mereka semua sudah melihat. Ku pikir cukup apabila mereka mengenalku. Tapi ternyata hanya ‘Ku pikir’. Tak lebih. Hanya hidup di pikiranku. Ternyata masih ‘Invisible’. Aku tak terlihat. Aku hanya angin. Mereka menganggapku kosong.
Mereka telah membuat kesalahan kecil. Kesalahan kecil yang membuat semuanya menjadi fatal. Membuat segala rencana kecil dan impianku untuk bisa dikenang berantakan. Mereka tidak menuliskan 3 huruf penting dalam catatan itu. I-L-A. ya, mereka lupa itu. Hal itu membuatku yang telah bergerak maju, kini berbalik arah. Kembali. Jendela dan pintu-pintu yang telah ku buka, ku tutup kembali. Rapat. Ku kunci. Tak ada yang bisa masuk. Membiarkan aku dalam kesendirian.
Tapi kau menggedor pelan, menawarkan anak tangga untuk aku mau keluar. Tapi sudah terkunci. Tak ada yang  bisa lagi membuka. Percuma.
Hanya kalimat ini yang kini menggema dalam ruang-ruang hatiku. Penuh, bising, dan membuat air kembali membanjiri mataku.
“I wanna have a CHANCE! Hanya itu. Aku pengen punya kesempatan. Kesempatan buat bisa showing off kalau aku juga bisa. aku pantas untuk mendapatkan penghargaan dan posisi penting dalam setiap hal. aku juga ingin dikenang. Sudah sejak kelas 11, aku berjuang, membuat mereka untuk mau sekedar menoleh dan tersenyum, aku ingin juga jadi terkenal, aku ingin di kenang. Sejak saat itu, kesempatan tak kunjung datang. Walau aku sudah melangkah untuk menggapai, tapi kesempatan itu bergeser lagi, berhenti pada orang lain yang hanya berdiri. Padahal kecil sekali, aku hanya ingin menjadi MC, entah untuk upacara atau acara mahad. Sampai akhirnya batas waktu sudah tiba. Sudah kelas akhir. Hanya tersisa satu kesempatan. Muadda’ah. Dan hanguslah sudah. Namaku tak dipanggil. Terlunta-lunta, kesini-kesitu, kesana-kemari, tujuanku tak tercapai. Gagal sudah. Mereka ingin aku masuk pada salah satu tim, tapi rasanya sudah hambar. Sudah tak nafsu. Tak ingin lagi. Bahkan iming-imingnya hanya menjadi figuran, sama saja tak terlihat, sama saja tak ikut. Bukan, bukan merendahkan posisi figuran, yang harus digaris bawahi di sini adalah sakit hatinya, kehambarannya. Kegagalannya. Entahlah, dendam kembali menumpuk di sudut. Membuat kerak. Keras dan sulit hilang.”
Kronis. Tak bisa lagi di tolong.

Selasa, 29 April 2014

Aku Rindu Bu Asri

beberapa hari terakhir, pagi datang seperti biasanya, lengkap dengan mentari yang tersenyum sumringah bak artis jagad raya.
udara malang sudah tak dingin lagi, panas. walaupun tak sepanas surabaya.

hari ini seharusnya terlihat indah juga. daun-daun bergoyang tertiup angin. suara tetesan air dari kran air yang tak bisa mati, suara bola yang digiring kesana kemari, suara canda tawa siswa-siswi, suara guru, dan semuanya.
seharusnya ini semua menyenangkan. hanya seharusnya. tak lebih.

sungguh hati ini tetap tak bisa berbohong. bercanda, tertawa-tawa, menjadi topeng penutup. hati ini tetap sakit. pedih. kabar-kabar tak enak kembali terdengar, beterbangan.

bukan, bukan siapapun. hanya Bu Asri seorang.
beliau sakit lebih dari 5 bulan lalu. sembuh dan bertambah parah, sembuh, kumat kembali, sembuh..
dulu saat aku sekolah, beliau sering 'kecetit'. namun ternyata semua itu hanyalah gejala. penyakit itu menggerogoti tubuhnya. sekarang ia hanya tergeletak tak berdaya. tubuh gempalnya sudah tak seperti dulu lagi. kini menyusut, kurus. tak ada tawa ceria seperti biasanya.
tergeletak, hanya tergeletak. kakinya tak kuat untuk sekedar berjalan.
matanya cekung, menghitam. tidur pun sulit baginya.

siapa yang tak tersayat melihat ibunya menderita seperti ini? siapa yang tega?
sungguh ia adalah wanita kuat dan ceria.
aku merindukannya. aku merindukan tubuh gempalnya yang memelukku erat. aku merindukan tawa cerianya ketika ia bercanda bersamaku. aku merindukan suara besarnya ketika menasehatiku. aku merindukan pekikannya saat kaget, aku merindukan saat ia melepasku dengan senyuman dan linangan air mata yang membasahi pipinya, mencium pipiku dengan segenap perasaannya.

aku merindukannya.
aku rindu Bu Asri.

sungguh dia ibuku juga. salah satu ibu terbaikku sepanjang masa.
Ya Allah, ku mohon sembuhkan ia dari penyakitnya. lepaskanlah ia dari penderitaannya. dan gantilah dengan segala kenikmatan yang telah Engkau janjikan, Ya Allah..
Aamiin.

I Miss You, Bu Asri.
(kiri)