Masih.
Masih kurasakan kaki dan tanganku bergetar hebat. Detak jantung juga
berpacu dengan lautan emosi yang mulai berombak karena angin dan palung-palung
yang mulai bergerak. Menghasilkan riak-riak kecil yang dapat membakar seluruh
padang savana.
Aku berlari. Tak bisa lagi menengok ke belakang. Apa dayanya ketika
bara yang telah padam, dipanaskan oleh terik matahari yang menyinari tak ada
henti. Merah menyala, dengan sedikit minyak, maka jadilah kobaran api.
Tak ada pilihan. Tak bisa pergi dan tak bisa bertahan. Tapi apabila
bertahan, sakit hatilah yang terpendam, membuat keruh mata air, mengotori
seluruh sungai. Tak bisa. Itu lebih menyakitkan. Pergi pun akhirnya kembali
menjadi pilihan.
Ya, aku pergi lagi untuk yang kesekian kali. Menghindari rasa sakit
yang terus mengejar di belakang, tak sanggup merasakan walau akhirnya akan
terasa juga.
Ku pikir aku sudah berhasil. Ku pikir mereka semua sudah melihat. Ku
pikir cukup apabila mereka mengenalku. Tapi ternyata hanya ‘Ku pikir’. Tak
lebih. Hanya hidup di pikiranku. Ternyata masih ‘Invisible’. Aku tak terlihat.
Aku hanya angin. Mereka menganggapku kosong.
Mereka telah membuat kesalahan kecil. Kesalahan kecil yang membuat
semuanya menjadi fatal. Membuat segala rencana kecil dan impianku untuk bisa dikenang
berantakan. Mereka tidak menuliskan 3 huruf penting dalam catatan itu. I-L-A.
ya, mereka lupa itu. Hal itu membuatku yang telah bergerak maju, kini berbalik
arah. Kembali. Jendela dan pintu-pintu yang telah ku buka, ku tutup kembali.
Rapat. Ku kunci. Tak ada yang bisa masuk. Membiarkan aku dalam kesendirian.
Tapi kau menggedor pelan, menawarkan anak tangga untuk aku mau keluar.
Tapi sudah terkunci. Tak ada yang bisa
lagi membuka. Percuma.
Hanya kalimat ini yang kini menggema dalam ruang-ruang hatiku. Penuh,
bising, dan membuat air kembali membanjiri mataku.
“I wanna have a CHANCE! Hanya itu. Aku pengen punya kesempatan.
Kesempatan buat bisa showing off kalau aku juga bisa. aku pantas untuk
mendapatkan penghargaan dan posisi penting dalam setiap hal. aku juga ingin
dikenang. Sudah sejak kelas 11, aku berjuang, membuat mereka untuk mau sekedar
menoleh dan tersenyum, aku ingin juga jadi terkenal, aku ingin di kenang. Sejak
saat itu, kesempatan tak kunjung datang. Walau aku sudah melangkah untuk menggapai,
tapi kesempatan itu bergeser lagi, berhenti pada orang lain yang hanya berdiri.
Padahal kecil sekali, aku hanya ingin menjadi MC, entah untuk upacara atau
acara mahad. Sampai akhirnya batas waktu sudah tiba. Sudah kelas akhir. Hanya
tersisa satu kesempatan. Muadda’ah. Dan hanguslah sudah. Namaku tak dipanggil.
Terlunta-lunta, kesini-kesitu, kesana-kemari, tujuanku tak tercapai. Gagal
sudah. Mereka ingin aku masuk pada salah satu tim, tapi rasanya sudah hambar.
Sudah tak nafsu. Tak ingin lagi. Bahkan iming-imingnya hanya menjadi figuran,
sama saja tak terlihat, sama saja tak ikut. Bukan, bukan merendahkan posisi
figuran, yang harus digaris bawahi di sini adalah sakit hatinya, kehambarannya.
Kegagalannya. Entahlah, dendam kembali menumpuk di sudut. Membuat kerak. Keras
dan sulit hilang.”
Kronis. Tak bisa lagi di tolong.
0 komentar:
Posting Komentar
RCL-juseyo~ :D