Jumat, 23 Mei 2014

pasca pengumuman

alooohaaa~
how's life?
me?
not really good actually, but who's care?

too tired to be here.
balik ke malang? not now deh. aku belum siap menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
jadi critanya, sekarang aku lagi bersembunyi dari kenyataan. bersembunyi dari orang orang yang selalu bertanya 'Danemmu piro?'. aku capek jawabnya. karena jawabannya tak patut untuk di umbar-umbar. ciyusly!
awalnya aku positive thinking, berapapun hasilnya itu tetep hasil dari keringat, usaha, dan rasa sakit yang udah kuderita selama 2 tahun belakangan. tapi tetep aja, lingkungan tak mendukung untuk ber-positive thingking-ria.
aku kecewa, sedih, malu, campur-campur. aku bilang aku capek di rendahin orang, tapi aku sendiri malah berbuat sesuatu yang membuat orang ngrendahin aku. gimana aku bisa maju?
pengen jadi yang lebih-lebih, pengen balas dendam ke orang orang itu. pengen nunjukin kalau aku bisa lebih dari yang mereka bayangkan!
tapi kok aku sulit di ajak maju?
heh? gimana caranya ngajak tubuh sendiri untuk berbuat sesuatu yang lebih?

helooo~
ini aku masih glundang-glundung di atas kasur!

AKU INGIN BERUBAAAAHHH!!!
AKU INGIN KEMAMPUANKU KEMBALIIIII!!!

selama sekolah di MAN 3, rasanya taringku kayak hilang, tumpul. cara berpikir dalam pemecahan masalah yang dulu di sd-smp tajam (menurutku loh yaa?? gak  maksud apa apa kok~) kayak hilang tak berebekas. tiap ngadepin soal, krik banget. cuma lihat doang, nggak bisa ngerjain.

kemana perginya aku yang dulu??
aku kangen gila!! aku butuh, aku mau aku yang lamaaaaa~

Sabtu, 17 Mei 2014

BREAK!



Masih.
Masih kurasakan kaki dan tanganku bergetar hebat. Detak jantung juga berpacu dengan lautan emosi yang mulai berombak karena angin dan palung-palung yang mulai bergerak. Menghasilkan riak-riak kecil yang dapat membakar seluruh padang savana.
Aku berlari. Tak bisa lagi menengok ke belakang. Apa dayanya ketika bara yang telah padam, dipanaskan oleh terik matahari yang menyinari tak ada henti. Merah menyala, dengan sedikit minyak, maka jadilah kobaran api.
Tak ada pilihan. Tak bisa pergi dan tak bisa bertahan. Tapi apabila bertahan, sakit hatilah yang terpendam, membuat keruh mata air, mengotori seluruh sungai. Tak bisa. Itu lebih menyakitkan. Pergi pun akhirnya kembali menjadi pilihan.
Ya, aku pergi lagi untuk yang kesekian kali. Menghindari rasa sakit yang terus mengejar di belakang, tak sanggup merasakan walau akhirnya akan terasa juga.
Ku pikir aku sudah berhasil. Ku pikir mereka semua sudah melihat. Ku pikir cukup apabila mereka mengenalku. Tapi ternyata hanya ‘Ku pikir’. Tak lebih. Hanya hidup di pikiranku. Ternyata masih ‘Invisible’. Aku tak terlihat. Aku hanya angin. Mereka menganggapku kosong.
Mereka telah membuat kesalahan kecil. Kesalahan kecil yang membuat semuanya menjadi fatal. Membuat segala rencana kecil dan impianku untuk bisa dikenang berantakan. Mereka tidak menuliskan 3 huruf penting dalam catatan itu. I-L-A. ya, mereka lupa itu. Hal itu membuatku yang telah bergerak maju, kini berbalik arah. Kembali. Jendela dan pintu-pintu yang telah ku buka, ku tutup kembali. Rapat. Ku kunci. Tak ada yang bisa masuk. Membiarkan aku dalam kesendirian.
Tapi kau menggedor pelan, menawarkan anak tangga untuk aku mau keluar. Tapi sudah terkunci. Tak ada yang  bisa lagi membuka. Percuma.
Hanya kalimat ini yang kini menggema dalam ruang-ruang hatiku. Penuh, bising, dan membuat air kembali membanjiri mataku.
“I wanna have a CHANCE! Hanya itu. Aku pengen punya kesempatan. Kesempatan buat bisa showing off kalau aku juga bisa. aku pantas untuk mendapatkan penghargaan dan posisi penting dalam setiap hal. aku juga ingin dikenang. Sudah sejak kelas 11, aku berjuang, membuat mereka untuk mau sekedar menoleh dan tersenyum, aku ingin juga jadi terkenal, aku ingin di kenang. Sejak saat itu, kesempatan tak kunjung datang. Walau aku sudah melangkah untuk menggapai, tapi kesempatan itu bergeser lagi, berhenti pada orang lain yang hanya berdiri. Padahal kecil sekali, aku hanya ingin menjadi MC, entah untuk upacara atau acara mahad. Sampai akhirnya batas waktu sudah tiba. Sudah kelas akhir. Hanya tersisa satu kesempatan. Muadda’ah. Dan hanguslah sudah. Namaku tak dipanggil. Terlunta-lunta, kesini-kesitu, kesana-kemari, tujuanku tak tercapai. Gagal sudah. Mereka ingin aku masuk pada salah satu tim, tapi rasanya sudah hambar. Sudah tak nafsu. Tak ingin lagi. Bahkan iming-imingnya hanya menjadi figuran, sama saja tak terlihat, sama saja tak ikut. Bukan, bukan merendahkan posisi figuran, yang harus digaris bawahi di sini adalah sakit hatinya, kehambarannya. Kegagalannya. Entahlah, dendam kembali menumpuk di sudut. Membuat kerak. Keras dan sulit hilang.”
Kronis. Tak bisa lagi di tolong.