Sabtu, 14 Juni 2014

Let It Go

Sore itu, jujur tak ada firasat apapun.
tak merasa ada tanda-tanda apapun.
HP juga tak sering berdering. biasa saja, semua terjadi biasa saja.

berkumandanglah adzan isya'. saat itu aku sedang duduk di dekat pos satpam. memandangi bulan yang hampir 1 lingkaran penuh. bersinar-sinar menerangi langit yang terlihat sedikit kelam. menunggu rosta kembali.

sebuah angkot 'AL' berhenti tepat di depan gerbang. seiring dengan itu rosta turun dan aku berdiri menghampiri. lalu kembali ke kamar setelah sebelumnya memberikan rok yang ia minta.

"ada telepon berkali-kali il, dari bu isti."
suara itulah yang menyambutku ketika masuk ke dalam kamar. perasaan ku mulai berbeda. aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. terlebih dengan adanya sms dari tedy berisi 1 nama, membuatku berpikir yang tidak-tidak.

bu isti sudah tak bisa lagi di telepon. jaringan sibuk, tanda bahwa ia sedang terhubung dengan orang lain. tedy lah yang menjadi pilihan kedua.

tersambunglah dengannya. terdengar suara seraknya di telepon. menggumamkan kabar yang menurutku sangat tak pantas untuk di buat bercanda. tak percaya. aku benar-benar tak percaya.

"Bu Asri sudah ndak ada"

air mata sudah tak bisa lagi di bendung. membuat basa pipi dan wajahku. masih tidak terima aku dengan kabar itu. berteriak di telepon hingga suaraku tenggelam karena tangis hingga memutuskan untuk menerimanya.

aku berusaha menelepon bu isti kembali, tapi masih saja tak bisa tersambung. hesti juga tak bisa ku hubungi. akhirnya uma pun menjadi pilihan. suaranya terdengar di seberang.

"Bu Asri udah ndak ada, um." kataku dengan suara serak karena tangis. uma tak merespon. hanya 'hah?' dan 'loh?', memastikan kembali apa yang telah di dengarnya. aku meyakinkannya kembali, sama seperti yang tedy katakan tadi.

telepon uma terputus. bu isti tetap tak bisa di telepon. aku memutuskan menelepon yodith, dengan respon yang kurang lebih sama. hesti tetap tak bisa di hubungi. dila tak bisa di hubungi, dinda juga sama. dan akhirnya nama bu isti kembali muncul di telepon. bu isti menelepon.

"iya il, bener. Bu Asri sudah ndak ada. sekarang sedang di ruang jenazah saiful anwar. nanti jam 9 akan diberangkatkan ke surabaya. ke sana o kalau bisa. tadi setelah dapat kabar, bu isti langsung telepon kamu tapi ndak di angkat."

begitulah bu isti bilang. beberapa sms masuk ke hp ku, kurang lebih sama. menanyakan berita tentang bu asri dan posisiku berada di mana.
aku memutuskan untuk menelepon luluk. dia yang paling parah. dia sama sekali belum bertemu dengan bu Asri semenjak pergi ke gontor dan setelah kembali ke rumah. sekalipun belum bertemu. ia bahkan sampai memberikan barang yang ia pegang kepada ibuknya, menangis dan memutuskan teleponku begitu saja.

aku harus ke rumah sakit sekarang juga, begitu pikirku. motor. hanya itu aksesnya.

aku mengirimkan pesan pada lutfi, tapi tak kunjung mendapatkan balasan. teman-teman sekamar menawariku untuk meminjam motor milik mas-mas, membantuku meminjamnya dan mengantarku ke rumah sakit karena kondisi yang tidak memungkinkan.

kunci motor mas Adi sudah di tangan Alya, ia mengantarku ke rumah sakit. saking gupuh dan bingungnya, kami sama-sama tak membawa apapun, hanya membawa ponsel, tanpa uang sepeserpun.
sampailah kami ke depan IGD. motor sudah terparkir apik. dan kami masuk ke rumah sakit.

"maaf mbak, ruang jenazah ada di belakang, harus naik motor." begitulah kata petugas resepsionis.

otomatis kami harus mengeluarkan uang untuk bisa mengeluarkan motor dari tempat parkir.
lutfi membalas pesanku. dan akhirnya aku memintanya untuk meminjamkan uangnya kepadaku agar bisa membayar tagihan parkir.
aku dan alya menunggunya di depan IGD. sedikit lama hingga akhirnya lutfi datang dengan beat putihnya. dan bodohnya, ia memberi alya uang 50ribuan. YANG BENAR SAJA!!! 50ribu untuk parkir?????
aku berjongkok di trotoar. kakiku rasanya lemas.
dan lutfi pun pergi.
aku dan alya pergi ke tempat parkir untuk mengambil motor lagi hingga akhirnya sampai di bagian forensik RS. Saiful anwar.

sepi. hanya ada segelintir orang. aku tidak melihat ada keluarga bu asri atau siapapun yang ku kenal. ragu-ragu, aku akhirnya menelepon Bu isti kembali. Bu Isti memberiku nomor telepon pak Fakhur, suami bu asri.

aku menelepon pak Fatkhur. suara di seberang sangat bising. ada suara 'ctak.. ctak..' yang tidah berhenti. dan samar-samar aku mendengar suara lain. suara dengungan ambulans.

"ini siapa?" tanya pak Fatkhur di tengah bising.
"ilafi pak. ini ilafi, muridnya bu asri. bu asri di ruang mana?"
"Ilafi.. Ilafii.. " panggilnya lemah. "Bu asri sudah ndak ada nak, Bu asri sudah meninggal."

kalimat itu yang membuatku langsung terdiam. saat itu semua baru terasa nyata. rasanya seperti bangun dari mimpi. semua ini nyata.
kakiku bergetar, terduduk di bagian forensik.
terlambat sudah. terlambat.

Bu Asri, ila sudah janji jenguk bu Asri pas kemo ke-3.
tapi ila terlambat bu. ila ndak tahu kalau bu asri masuk rumah sakit lebih awal.
seandainya ila tahu, ila mungkin bakal langsung jenguk bu asri.
maafin ila bu, pas kemo ke-2 ndak bisa jenguk bu asri.
suporter ila, orang yang selalu kasih ila semangat, orang yang selalu percaya kalo ila bisa, orang yang nggak pernah ngremehin ila, tempat curhat ila, orang yang sayang sama ila.
Ya Allah, balaslah kebaikan hatinya.
terimalah amal ibadahnya.
ampunilah segala dosanya.
Ya Allah, mohon sampaikan, aku mencintainya, aku merindukannya.
sampaikan segala rindu dan maafku padanya. sampaikan terimakasihku padanya.

Selamat Jalan Ibukku tercinta, bundaku tersayang, bunda ARCHIPELAGO, aku mencintaimu.

0 komentar:

Posting Komentar

RCL-juseyo~ :D