Minggu, 24 Maret 2013

ARCHIPELAGO

Suddenly I miss that time.

waktu masuk pertama kali, tanpa tantangan sedikitpun. hanya seperti naik kelas.
awkward, bertemu dengan orang-orang baru dan orang-orang lama.



mengingat bagaimana sebuah hubungan pertemanan yang saling mengaitkan kami terbentuk.
berjalan, bergandengan, bersama. canda tawa memenuhi udara. seolah dunia hanya milik kami. dalam genggaman.



naik kelas. semua tumbuh. pikiran mulai berkembang.
memulai untuk berlatih, memilih mana yang benar dan yang salah.
perlahan tapi pasti, pintu dunia yang belum pernah kami ketahui perlahan mulai terbuka.
rahasia-rahasia umum, apa itu masih bisa di sebut rahasia?
kenyataan pun lama-lama mulai muncul.
ya, sekolah yang kami bangga-banggakan ternyata menuai banyak selentingan dari sebagian orang.
yang ini, yang itu.
kami mulai mengetahui bagaimana jatuh bangun sekolah ini berdiri dan tetap bertahan.
increase, decrease.
mulut-mulut itu terbuka. berbicara. mengatakan isi hati mereka. sakit hati mereka yang perlahan kami bisa rasakan.

OSIS.
menyatukan dan memecah belah kami.
menyatukan kami yang berada di dalamnya, bagaimana sebuah kerja keras di laksanakan.
bersatu untuk tidak menjadi sama dengan yang di atas kami.
perbandingan demi perbandingan terus terucap tanpa hanti.
seonggok dendam bersemayam, mengobarkan api semangat untuk menjadi lebih, lebih, dan lebih.
menjadi suatu tonggak obsesi yang menjadikan kita untuk bisa berbeda.
jatuh, bangun, kekacauan.
serta membuat dinding tebal di luarnya.

semua yang jatuh terasa lebih jatuh. masuk kedalam jurang. palung yang terdalam.
satu per satu semua terkuak. kebenaran demi kebenaran, kenyataan demi kenyataan muncul ke permukaan.
menghela napas tertahan. menyisakan sakit hati yang mendalam.

dua kubu saling berhadapan. tidak menyerang. hanya saling diam. terlihat tidak ada apa-apa, namun sesungguhnya dinding besar telah tercipta.
 hingga akhirnya, sebuah palu penyerahan menghancurkannya sedikit demi sedikit.
suara hati lirih, kecil. namun menusuk seperti jarum. menghancurkan harga diri seperti es yang mencair. meluruh bersama dinding-dinding tebal yang telah hancur.

kubu lainnya masih berdiri. kembali membuat kami terperosok semakin dalam.
kertas-kertas yang sekiranya masih mempunyai nilai itu teronggok sia-sia.

perkumpulan pengakuan dosa.
tonggak langkah di mana tali mulai terulur.
air mata yang paling berharga menetes. membanjiri pipi. 
kekecewaan mendalam tak mereka tutupi.
ya, kami membuat lubang dalam hati mereka menganga. lebar. sulit untuk di tutup bahkan dengan jutaan ton pasir.
satu persatu berdiri. bibir-bibir mulai bergetar hebat. bukan satu, semua. kepala mulai tertunduk lesu.
meja kursi menghantam, dari sumpah serapah hingga hanya diam.
melebur.

tak bisa berhenti. tangisan itu tak bisa berhenti.
sembah sujud kami haturkan.
begitu banyak yang kami perbuat, namun tangan mereka tetap terbuka lebar.

langkah demi langkah.
tanjakan demi tanjakan.
banyak kerikil yang membuat kami terjatuh lagi. namun tangan mereka tetap terulur. membantu kami untuk bangkit. bangkit dan kembali berdiri.
di tempat semula.
hingga mimpi-mimpi mulai terkait. satu per satu, tapi pasti.
bagaikan sebuah pohon, mimpi kami bergantung-gantung. semakin tinggi, semakin di hembuskan oleh angin.
mimpi untuk bergandengan tangan bersama keluar dari pintu gerbang menuju dunia nyata.


pintu gerbang semakin mendekat.
namun, kunci belum berada di tangan.
tergopoh gopoh, dan terjatuh. tak ada kenaikan signifikan. membuat semua akhirnya terpontang-panting. berbagai usaha untuk membantu kami mendapatkan kunci itu
berbagai cara dan metode ampuh, semua di keluarkan.
pagi siang senja malam, tak berhenti.
tetap saja sama hasilnya.

hingga tangan-tangan mulai terangkat. menyerah.
menengadah, mengharap kepada-Nya.
bibir-bibir mulai menggumam, terlantun doa-doa mereka untuk kami.

saat menilik melihat jendela dunia nyata, mimpi-mimpi kecil muncul dan menghilang. ikut terhembuskan oleh angin yang membawa kabar 'DITERIMA' dan 'TIDAK DITERIMA'.
kembali terperosok oleh nasib. terseret-seret, di paksa untuk mencari jalan lain. jalan yang sekiranya akan membawa kami untuk kembali menggapai mimpi-mimpi.

hingga akhirnya saat itu tiba.
saat di mana kami akan menentukan kami bisa mencapai pintu gerbang atau tidak.
ujian. ya. ujian.
ujian di mana kami harus menumpang untuk menempuhnya. bertemu kembali dengan orang-orang yang dulu bersama kami dan sekarang jauh di atas kami.
di dalam tempat yang bergengsi.


96 jam berlalu hingga akhirnya kami bisa menghembuskan nafas.
perlahan syaraf-syaraf bibir bekerja. menarik sudut bibir mereka hingga terlihat jajaran berwarna putih.
angin menyejukkan berhembus di hati kami. berdesir. hingga sudut bibir kami ikut tertarik.
menjabat tangan kami satu-persatu. erat. memberikan kekuatan dan kepercayaan.

hingga waktu kembali berputar. seperti roda yang tidak pernah berhenti. berbagai hal butuh untuk di persiapkan hingga saatnya kami hari penentuan penerimaan kunci.

sabtu, ya. sabtu.
hari itu terlihat amat cerah.
namun hatiku sedikit mendung.
malam itu tulisan 'SATU ORANG YANG TIDAK LULUS' terpampang jelas.
terbayang-bayang hingga pagi menjelang.
di istana kecil kami di tengah-tengah hamparan hijau, berbagai desas-desus terus menyeruak seperti bisikan setan.

terduduklah kami.
perasaan aneh datang menelusup, melihat wajah mendung mereka.
dan kembali kebenaran terungkap. wajah yang sama.
kembali menunduk dalam, terkukung dalam rasa malu dan rasa bersalah.
gigi-gigi bergemeletuk. tangan menggenggam erat geram.

namun mereka meredam. dengan kaliamt yang begitu pasrah dan menyakitkan.

nama kami terucap. satu persatu berdiri. melangkah untuk mengambi kertas putih.
terpampang jelas nama kami dalam balutan amplop putuh itu.
bibir terdiam dengan mata memandang tak percaya.
menggenggam erat amplop itu hingga buku-buku jari kami memutih dan bergetar.

dengan menyebut Asma-Nya, kami perlahan membuka amplop itu dengan napas tertahan.
perlahan tapi pasti mengeluarkan kertas pulih bertinta hitam yang kami tunggu-tunggu.

air mata menyeruak. tak mampu kami membendung.
genggaman dan pelukan hangat. ucapan-ucapan syukur menggema.

namun ada satu. diam, duduk, sendiri. ikut senang bersama yang lain dengan senyuman terpaksa.
apa ada yang salah?
ya. tentu. sebuah kesalahan terjadi.
kalimat 'TIDAK LULUS' itu benar-benar terjadi.

senyap kembali mengiringi.
hingga bibir mereka terbuka lengkap dengan senyuman jahil yang membuat hati kami berdesir.
mengungkap tabir kepalsuan yang mereka buat.
mengganti amplop kelulusan yang di dapatkannya dengan tulisan yang benar. 'LULUS'.
ya, mereka mengerjai kami.


sorak sorai pun menggema.
kami bisa pulang dengan bangga, menunjukkan hasil kami kepada orang yang menunggu kami di rumah.
saat keluar dari ruangan itu, pandangan mata tertuju pada kami.
pandangan-pandangan keingintahuan, hingga pandangan-pandangan senang.
jabat tangan, memberi kami selamat.
kami mendapatkan kunci itu.
39 kunci.
kunci yang akhirnya membawa kami ke pintu gerbang kelulusan.

dan tibalah pada saat yang paling kami benci dalam hidup kami.
perpisahan.

jungkir balik kami berbuat. berusaha meninggalkan sedikit jejak manis di antara kepahitan yang kami ciptakan.

persembahan terakhir kami untuk mereka yang memakai baju biru. berdiri mebusungkan dada. menyalami tamu yang satu per satu datang.

alunan musik yang mengalun, bergetar dalam gendang telinga.
menyatu dalam gedung.
barisan-barisan kenangan terputar dalam layar putih.
pengungkapan beribu maaf dan terima kasih.

hingga akhirnya kami menghadap mereka satu persatu.
berjabat tangan. pelukan bahkan ciuman.
kami di lepas bagaikan anak penyu.

membuka 39 gembok yang ada dalam pintu gerbang. bersama. bergandengan tangan, melangkahkan kaki keluar bersama.

saling membungkuk dan melambaikan tangan, untuk menempuh jalan yang berbeda.
jalan yang awalnya kami kira akan lebih pahit, namun ternyata nasib yang jauh lebih bermakna telah menunggu kami.
meneruskan jejak mimpi-mimpi kami untuk bisa terwujud.

ya. itulah perjalanan kami.
perjalanan mengarungi daratan dan lautan kepulauan.
sepenggal kisah kami untuk menjejakkan langkah kaki di dunia.
itulah ARCHIPELAGO.



2 komentar:

She mengatakan...

huwapiiiiik iiil, sumpah merinding bacanya. ciyusly aaaaaaaah, aku terbawa suasanaaaaaa ;____;

Ilylafi mengatakan...

hehe, gomawoyo~
but that is exactly happened lho!

Posting Komentar

RCL-juseyo~ :D